Saturday, March 13, 2010

are you ready for a changes...?



Some couples days ago a friend of mine held a demonstration on campus. They oppose the decision of campus employs a lecturer, with a behavioral reasons. After facing the dean and not getting results, they begin to act a little extreme. Some began hitting the window, there is also breaking the lights and hit some old drums, making noise and disturbing other students who were studying.
I just stared and shook my head. What is there in their minds? Most severe they began to affect the younger generation who really don’t know the problem exactly including me. The problem occurs when the faculty hires a lecturer who has been dismissed also caused demo by the students, some years ago. The lecturer considered not cooperative with students especially in providing the assessment.
Many versions of the story I heard from some, but whatever it does not become an issue for me. Otherwise all the reasons make me even more curious about the assessment system was holding by the lecturer. And I am asking to myself is it really like that? Only I and a few students took the coastal engineering court, and most don’t take it because this court taught by the killer lecturer, that’s how he has been called.
I felt pity on them. Their mindset is so narrow. After several months, I’ve been a student of Flores University, i know exactly how is their learning pattern. Rely on a hundred percentage of attendance, doing homework that most of that the cheat result, they began to demand their rights. I can understand, if the lecturer gave them only C or D. If the homework that doing by the students just copy and paste, so what have they got? What they have learned? It’s normal if the lecturer want you to take this court again in next term. Only a fraction of the total UNFLOR engineering students can be said as students, and the rest did not.
Changes, that’s want to be applied by the lecturers. Changes promote and create more quality. Changes will not happen in one day, it needs process, months and years. What happened during years is student becomes very spoiled by some teachers. Or what is it in English “harap gampang” maybe “please easy”. A pack of cigarettes could make a student get A, and everything will be okay, even if you never attendance the class. Oh my God, what this university can be?
I agree and support the lecturers who want to make changes. And it’s sure there will be many obstacles on doing this.
Change has these characteristic, and they are:
1.      Changes very mysterious
2.      Changes need change maker(s)
3.      Not everyone can adapt to change. Some only can see using the eye of perception, only can see the reality without an ability to see the future.
4.      Changes happen all the time, that’s why it’s important to us following the change. A small change impacts to others changes.
5.      There are two sides of changes they are: the hard and soft side of changes. Hard side tends to money and technology while the soft side tends to people and organization.
6.      Changes needs times, money and power.
7.      Changes need extra efforts to touch the basic value of organization. Without touching the basic values, changes will not change the behaviors and habits.
8.      Most of changes were colored by myths. One of the myth that change followed by progress.
9.      Changes product an expectation. Changes make people hope for a changes and it direct to a disappointment if the changes not happen.
10.   Changes always scary and cause panics. But using communication techniques changes can be a party and cause collective effects.
(adopt from Change, Rheinald Kasali, Ph.D)

On the initiative of the lecturers, Engineering Faculty rose from the dreams of backwardness and start moving forward to meet the changing.
Progress will not happen without change. If we want to grow up, we need to change. Change our mindset to be brave enough to accept the changes. If don’t change and can’t adapt to all the changes then we just confine our steps at one point.
I support the idea of the lecturers, so there will be no safe by cigarettes. But with the efforts and awareness to train the brain, change the learning pattern from yes please to I can do by me, I believe this faculty will get name and class. I also hope this faculty can further the next 5-10 years and can produce graduate qualified. Hopefully…………..

Labels:

Sedih tak punya baju baru? Tentu tidak…..Sedih tak punya buku? Tentu iya....


Sedih tak punya baju baru? Tentu tidak…..Sedih tak  punya buku? Tentu iya
Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi tentang betapa berartinya buku atau lebih tepatnya bacaan bagi saya dan tentunya bagi kita semua. Karena membaca tidak selalu harus buku bukan, dengan bermodalkan sebuah PC atau laptop dan sebuah flash modem (cdma dengan tarif 50rb per bulan), kita bisa mendapatkan artikel untuk dibaca,belajar bahasa Inggris secara online dari bbc.co.uk, dan bahkan bahan belajar untuk anak pra sekolah pun tersedia dalam salah satu search engine terbesar, “Uncle Google”,satu dari anak kecanggihan teknologi. Bahwa penting dan bermanfaat jika kita meluangkan waktu bagi buah hati kita, tiga puluh menit atau lebih membacakan cerita untuk mereka saat tidur siang ataupun malam. Semakin sering kita melakukanya, lihat bagaimana mereka berimajinasi, menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri dan menjadi kreatif. Bercerita sudah saya lakukan sejak anak saya berumur 8 bulan, tidak setiap hari, tapi sesering mungkin saya berusaha meluangkan waktu di sela-sela kesibukan saya, dan kadang tertidur bersama karena keletihan. Sekarang anak saya akan berusia 4 tahun, melihat apa yang sudah bisa dilakukannya, membuat saya semakin bersemangat untuk terus membimbingnya, membuat dia semakin mencintai buku dan pensil.  Ini hanya tulisan dari seorang ibu rumah tangga yang ingin berbagi dan semoga bermanfaat.   
Ini adalah pertanyaan yang hinggap di kepala saya ketika tiba di kupang. Mau kemana besok yah? Ke toko baju atau ke gramedia? Baju baru atau buku? Biasanya sudah saya rencanakan sebelum ke kupang. Tapi membeli baju baru, sepatu baru, tas baru semuanya terkalahkan dengan membeli buku. Buku buat saya, buku buat suami dan buku buat anak. Bagi saya penampilan tidak penting isi otaklah yang penting. Biasanya yang saya beli biasanya buku resep masakan, buku pengembangan kepribadian dan buku-buku agama. membeli buku resep masakan, sampai di rumah bisa dicoba resepnya,kalau berhasil dan  rasanya enak, layak jual dan jadilah usaha, biasanya yang jadi testernya suami dan anak. Ketika sedang dalam masalah mau lari kemana, curhat ke siapa juga bingung? Kami keluarga baru di daerah baru. Satu-satu pelarian hanyalah buku, membaca, memahami dan jadi diam dalam jawaban yang tersirat dari otak sang penulis buku yang saya baca.
Buku buat suami, biasanya majalah computer PC-media dan beberapa tutorial yang berhubungan dengan computer. Informasi yang ada terus diupdate, dan beberapa orderan servican pun berdatangan. Atau ada yang minta dibersihin laptop atau pc-nya dari virus.
Buku buat anak, belajar menulis dan berhitung, belajar mewarnai, alkitab kecil sudah menjadi miliknya. Tapi bukan tidak hanya membeli, saya punya tugas besar disini. Terus membimbingnya dengan penuh kesabaran, meskipun saya sebenarnya bukan orang yang sabaran. Tebalkan huruf dan lafalkan. Hitung jumlah pensilnya dan lingkari. Suatu hari setelah kami hitung bersama jumlah pensilnya ada 16-20 secara acak,
Mama: kenapa yang kamu lingkari hanya angka 17 nak?  
Anak : Karena saya suka 17 mama….
anak : “mama, bagaimana caranya menulis nama saya?”
Mama : J E R I (mengeja)
Anak : bukan mama, yang benar itu J O E.  (sambil menunjukkan huruf-hurufnya), (haaaaa? Jdalam hati saya). saya menatapnya sesaat (bingung), kalau dikoreksi pasti bos kecil ini akan minta dihapus koreksiannya. Dan akhirnya saya hanya bisa berkata: “yah sudah kamu selesaikan saja yah, kalau sudah selesai baru panggil mama”. Rasanya itu lebih efektif daripada harus mempertahankan pendapat saya karena bagi dia jawabannyalah yang paling benar.
Disaat yang lain barulah saya  jelaskan jawaban yang sebenarnya. Dan itu bisa diterima oleh anak saya. Benar-benar harus sabar. Bocah kecil itu paling senang dibacakan cerita pada saat tidur siang dan tidur malam. Dan saya pun mulai mengarang, terkadang dibacakan dari buku. Cerita favoritnya adalah cerita tentang ikan dari Disney Ensiklopedi.
Suatu hari ada percakapan kecil di antara kami:
Anak  : mama, ikan hiu paus itu baik kah?
Mama : menurut kaka baik atau tidak?
Anak  : baik mama, karena dia tidak makan anjing laut tapi plankton plankton kecil.
Jelas sekali bagaimana dia menyebut plankton-plankton kecil, seingat saya baru  sekali saja membacakan cerita tentang ikan hiu paus.
Sejak saat itu saya selalu berusaha meluangkan waktu lebih sering untuk menemaninya membacakan disamping saat tidur siang maupun malam.
Kadang ketika bercerita dalam keletihan dan mata tak bisa diajak berkrompomi maka anak saya akan berkata : “mama, kalau cerita itu yang benar, mama mengantuk kah?”.  Dan saya menjawab : “iya sayang” Dengan penuh kasih dia memeluk saya dan berkata “kita tidur sudah mama e….”.
Kadang saya merasa minder diantara ibu-ibu tetangga lain, yang rata-rata adalah pegawai. mereka memiliki banyak baju bagus. Yang selalu mereka bicarakan adalah “di Ba’a sudah buka butik baru atau sudah lihat belum koleksi baju barunya, sepatunya bagus”. Dan saya cuma tersenyum kalau diajak kesana dan menolak dengan halus. Saya membutuhkan baju, tapi tidak seminggu atau dua minggu sekali harus belanja baju, sepatu dan tas. Beberapa potong cukup disesuaikan dengan kebutuhan.
Ketika kembali ke kamar, melihat anak yang aktif, tawanya, manjanya, tangisnya haruskah saya merasa minder. Melihat suami yang sedang melahap kue tart susu buatan saya dengan nikmatnya, haruskah saya merasa minder? Minder karena tak punya baju bagus atau apalagi yang lain? haruskah….? Tidak.
 Bersyukur untuk apa yang sudah saya miliki dalam hidup, suami yang mencintai saya apa adanya dan juga seorang putra yang menggemaskan. Itu saja yang ingin saya lakukan dalam hidup saya saat ini hanya bersyukur.  Ketika bersyukur maka semua pikiran minder itu akan hilang dan berganti dengan “terima kasih Bapa, atas berkatmu.”

Labels: