Sedih tak punya baju baru? Tentu tidak…..Sedih tak punya buku? Tentu iya....
Sedih tak punya baju baru? Tentu tidak…..Sedih tak punya buku? Tentu iya
Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi tentang betapa berartinya buku atau lebih tepatnya bacaan bagi saya dan tentunya bagi kita semua. Karena membaca tidak selalu harus buku bukan, dengan bermodalkan sebuah PC atau laptop dan sebuah flash modem (cdma dengan tarif 50rb per bulan), kita bisa mendapatkan artikel untuk dibaca,belajar bahasa Inggris secara online dari bbc.co.uk, dan bahkan bahan belajar untuk anak pra sekolah pun tersedia dalam salah satu search engine terbesar, “Uncle Google”,satu dari anak kecanggihan teknologi. Bahwa penting dan bermanfaat jika kita meluangkan waktu bagi buah hati kita, tiga puluh menit atau lebih membacakan cerita untuk mereka saat tidur siang ataupun malam. Semakin sering kita melakukanya, lihat bagaimana mereka berimajinasi, menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri dan menjadi kreatif. Bercerita sudah saya lakukan sejak anak saya berumur 8 bulan, tidak setiap hari, tapi sesering mungkin saya berusaha meluangkan waktu di sela-sela kesibukan saya, dan kadang tertidur bersama karena keletihan. Sekarang anak saya akan berusia 4 tahun, melihat apa yang sudah bisa dilakukannya, membuat saya semakin bersemangat untuk terus membimbingnya, membuat dia semakin mencintai buku dan pensil. Ini hanya tulisan dari seorang ibu rumah tangga yang ingin berbagi dan semoga bermanfaat.
Ini adalah pertanyaan yang hinggap di kepala saya ketika tiba di kupang. Mau kemana besok yah? Ke toko baju atau ke gramedia? Baju baru atau buku? Biasanya sudah saya rencanakan sebelum ke kupang. Tapi membeli baju baru, sepatu baru, tas baru semuanya terkalahkan dengan membeli buku. Buku buat saya, buku buat suami dan buku buat anak. Bagi saya penampilan tidak penting isi otaklah yang penting. Biasanya yang saya beli biasanya buku resep masakan, buku pengembangan kepribadian dan buku-buku agama. membeli buku resep masakan, sampai di rumah bisa dicoba resepnya,kalau berhasil dan rasanya enak, layak jual dan jadilah usaha, biasanya yang jadi testernya suami dan anak. Ketika sedang dalam masalah mau lari kemana, curhat ke siapa juga bingung? Kami keluarga baru di daerah baru. Satu-satu pelarian hanyalah buku, membaca, memahami dan jadi diam dalam jawaban yang tersirat dari otak sang penulis buku yang saya baca.
Buku buat suami, biasanya majalah computer PC-media dan beberapa tutorial yang berhubungan dengan computer. Informasi yang ada terus diupdate, dan beberapa orderan servican pun berdatangan. Atau ada yang minta dibersihin laptop atau pc-nya dari virus.
Buku buat anak, belajar menulis dan berhitung, belajar mewarnai, alkitab kecil sudah menjadi miliknya. Tapi bukan tidak hanya membeli, saya punya tugas besar disini. Terus membimbingnya dengan penuh kesabaran, meskipun saya sebenarnya bukan orang yang sabaran. Tebalkan huruf dan lafalkan. Hitung jumlah pensilnya dan lingkari. Suatu hari setelah kami hitung bersama jumlah pensilnya ada 16-20 secara acak,
Mama: kenapa yang kamu lingkari hanya angka 17 nak?
Anak : Karena saya suka 17 mama….
anak : “mama, bagaimana caranya menulis nama saya?”
Mama : J E R I (mengeja)
Anak : bukan mama, yang benar itu J O E. (sambil menunjukkan huruf-hurufnya), (haaaaa? Jdalam hati saya). saya menatapnya sesaat (bingung), kalau dikoreksi pasti bos kecil ini akan minta dihapus koreksiannya. Dan akhirnya saya hanya bisa berkata: “yah sudah kamu selesaikan saja yah, kalau sudah selesai baru panggil mama”. Rasanya itu lebih efektif daripada harus mempertahankan pendapat saya karena bagi dia jawabannyalah yang paling benar.
Disaat yang lain barulah saya jelaskan jawaban yang sebenarnya. Dan itu bisa diterima oleh anak saya. Benar-benar harus sabar. Bocah kecil itu paling senang dibacakan cerita pada saat tidur siang dan tidur malam. Dan saya pun mulai mengarang, terkadang dibacakan dari buku. Cerita favoritnya adalah cerita tentang ikan dari Disney Ensiklopedi.
Suatu hari ada percakapan kecil di antara kami:
Anak : mama, ikan hiu paus itu baik kah?
Mama : menurut kaka baik atau tidak?
Anak : baik mama, karena dia tidak makan anjing laut tapi plankton plankton kecil.
Jelas sekali bagaimana dia menyebut plankton-plankton kecil, seingat saya baru sekali saja membacakan cerita tentang ikan hiu paus.
Sejak saat itu saya selalu berusaha meluangkan waktu lebih sering untuk menemaninya membacakan disamping saat tidur siang maupun malam.
Kadang ketika bercerita dalam keletihan dan mata tak bisa diajak berkrompomi maka anak saya akan berkata : “mama, kalau cerita itu yang benar, mama mengantuk kah?”. Dan saya menjawab : “iya sayang” Dengan penuh kasih dia memeluk saya dan berkata “kita tidur sudah mama e….”.
Kadang saya merasa minder diantara ibu-ibu tetangga lain, yang rata-rata adalah pegawai. mereka memiliki banyak baju bagus. Yang selalu mereka bicarakan adalah “di Ba’a sudah buka butik baru atau sudah lihat belum koleksi baju barunya, sepatunya bagus”. Dan saya cuma tersenyum kalau diajak kesana dan menolak dengan halus. Saya membutuhkan baju, tapi tidak seminggu atau dua minggu sekali harus belanja baju, sepatu dan tas. Beberapa potong cukup disesuaikan dengan kebutuhan.
Ketika kembali ke kamar, melihat anak yang aktif, tawanya, manjanya, tangisnya haruskah saya merasa minder. Melihat suami yang sedang melahap kue tart susu buatan saya dengan nikmatnya, haruskah saya merasa minder? Minder karena tak punya baju bagus atau apalagi yang lain? haruskah….? Tidak.
Bersyukur untuk apa yang sudah saya miliki dalam hidup, suami yang mencintai saya apa adanya dan juga seorang putra yang menggemaskan. Itu saja yang ingin saya lakukan dalam hidup saya saat ini hanya bersyukur. Ketika bersyukur maka semua pikiran minder itu akan hilang dan berganti dengan “terima kasih Bapa, atas berkatmu.”
Labels: stories


0 Comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home