Friday, March 12, 2010

jangan ambil hartaku

Sore itu hujan sangat deras, jalanan terlimpas curahan air hujan yang sepertinya tidak ingin berdamai. Kilat, dan Guntur terus saling menyambung seperti ingin mengatakan akulah yang lebih berkuasa. Seorang anak terus bergelut dalam pelukan mamanya. Dekapan erat yang terlalu rapuh untuk dijadikan sandaran. Mama mari kita ke kamar, saya sudah mengantuk. Seperti kehilangan akal, ibu itu menuju ke kamar, dan tidak ada apa-apa disana. Kasur yang empuk, bantal, bahkan selembar Koran untuk beralas tidur pun tidak. Yang tersisa adalah lantai basah yang mulai becek karena seng yang bocor terus menitikkan air membasahi lantai seperti hendak membanjiri lantai dengan genangan kecil. Dan anak itu terus menangis karena terlalu ingin meletakan tubuh kecilnya untuk berbaring setelah capek bermain seharian. Sang mama hanya bisa memeluk anaknya erat, dengan hati yang remuk redam, berusaha menenangkan buah hatinya tanpa kehadiran suami tercinta. Matanya berkaca-kaca dan air mata mulai membasahi pipinya, terus diciumi anaknya, sambil berharap hujan akan berdamai dengan dirinya.
Dalam dekapan yang luar biasa hangatnya dan penuh kasih sayang anak itu tertidur, sang mama beranjak ke ruang tengah, ruang tamu dan melongok ke dapur yang hanya berisikan satu drom untuk menampung air minum. Dia mencari tempat yang agak kering untuk juga bias ikut meletakkan tubuhnya sejenak sambil menggendong anaknya. Akal sehatnya mulai bekerja dan ingatannya mulai normal kembali, pada saat itu baru dia tersadar dia baru saja kehilangan suaminya. Suaminya meninggal tujuh hari lalu, tepat pada hari ketiga satu persatu barangnya diambil oleh penagih hutang, tanpa sedikitpun belas kasihan, dan tak menyisakan satupun. Awalnya rumah itu adalah gubuk beratap daun, suaminya adalah anak tunggal dalam keluarganya, sejak kematian mertuanya maka rumah itu menjadi milik suaminya. Dia menikah tepat ketika umurnya baru saja menginjak 25 tahun, karena pergaulan bebas dan di bangku kuliah. Keluarganya sendiri tidak ada yang menyetujui pernikahan itu, bahkan bapak dari sang mama mengharapkan anak dalam kandungannya itu diadopsi saja olehnya, supaya anaknya bisa melanjutkan kuliah. Tapi semua itu tidak diinginkan sang anak. Berjalan satu tahun kehidupan rumah tangga semuanya berjalan aman, karena untuk hidup dan menutupi kekurangan mereka masih bergantung dari mertua sampai sang suami mendapatkan pekerjaan tetap. setelah tiga bulan sang suami bekerja juga kematian sang mertua, pasutri itu mengambil keputusan untuk mengambil pinjaman bank, dengan tujuan untuk merenovasi rumah.
Baru sebulan pinjaman itu diambil dan rumah itu masih dalam renovasi, sang suami jatuh sakit. Dan uang sisa pinjaman habis untuk biaya rumah sakit sang suami tercinta, bantuan dari orangtua sang istri sudah tak terhitung banyaknya, sementara mereka pun harus memenuhi kebutuhan mereka sendiri. hanya ada satu jalan tersisa meminjam dari rentenir, dengan ketentuan 1 buan pengembalian dengan bunga. Beberapa bulan kemudian sang suami meninggal, meninggalkannya dengan bunga pinjaman yang sangat besar.
Dia menangis pilu dalam diam, isak yang tertahan tak ingin mengusik kepulasan tidur buah hatinya. Memeluk anaknya dengan kasih, dan terus berteriak histeris dalam hatinya, bagaimana nasibmu nak….?
Nyanyian tangisannya terganggu oleh gaduh di depan pintu rumahnya, suara perempuan berteriak minta dibukakan pintu, bangkit berdiri dia berjalan perlahan membuka pintu. Ketika pintu terbuka sang rentenir masuk bersama seorang pengawal dan seketika merampas anaknya yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya. Tangisnya pecah dan bertanya “ada apa?” dengan angkuh sang rentenir menjawab “ hutangmu masih banyak, anakmu saya ambil cepat sini berikan anakmu!” sang ibu terus menangis mempertahankan anaknya miliknya satu-satunya saat ini. Langit runtuh diatas kepalanya, berat sekali dia tak mampu memikulnya saat itu dan oh aku bermimpi dan menangis.
Ketakutan, kulihat kesamping, “terima kasih Bapa” kata pertama yang keluar dari mulutku. Jagoanku masih tertidur pulas disampingku. Kupeluk dan kucium keningnya,….
Mimpi itu masih mempengaruhiku hingga seharian. Aku seperti ketakutan, dikejar mimpi. Aku menelepon suamiku dan menceritakan padanya. Dan dia mengatakan : “ma, itu hanya mimpi.” Terima kasih Bapa kembali aku masih memiliki harta, mereka berdualah hartaku yang termahal.
Dari ketakutan aku lalu terbakar api keberanian. Berani untuk menghadapi semua rintangan di masa yang akan datang. Mempersiapkan diriku untuk mandiri dan tidak bergantung pada suami. Aku pernah gagal di masa lalu, hamil di bangku kuliah. Dan sekarang melanjutkan kuliah S1 di tanah kelahiranku.
Dari international civil engineering ke Teknik Sipil Universitas Flores. Jauh sekali dari suasana tempatku kuliahku dulu. Tapi inilah hidup dan harus aku jalani. Dimana pun tempatnya aku kuliah, pulau Jawa, NTT, Papua apakah ada bedanya? Semua memang berbeda, beda wilayah, beda fasilitas dan banyak yang lainnya. Tapi satu yang sama, semua lembaga pendidikan adalah tempat kita menimba ilmu. Berapa banyak ilmu yang bisa kau timba, hanya ditentukan oleh dirimu sendiri bukan lembaga. Lembaga hanya menyediakan fasilitas dan kitalah yang menentukan mau maju atau tinggal diam di tempat. Inilah tempatku, dan dari tempat ini pula aku ingin memajukan diriku, keluarga kecilku, keluarga besarku, tanah kelahiranku dan juga negaraku. Aku hanya ingin maju, terus belajar dan bisa mandiri dengan cara yang benar, aku yakin aku bisa capai semua itu dan bukan hanya mimpi

Labels: